Sebenarnya ada 2 hari yang sangat bermanfaat bagi aku pada bulan Oktober yang akan berlalu ini, aku akan membagikannya pada kalian, okay?!
Pengalaman berharga ini tentu saja aku lewatkan bersama best-friends ku, kayaknya gak mungkin banget kalau aku jalan-jalan sendiri tanpa mereka. Bermula dari sebuah potongan kertas berukuran kurang lebih 25x10 cm yang aku dapat dari temanku, di kertas itu tertulis akan diadakan seminar pada tanggal 23 Oktober 2009 yang akan menginformasikan tentang bagaimana cara agar kita dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri, macam-macam universitas yang tersedia di sana, dan bahkan bagaimana cara agar kita mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri. Seminar ini diadakan oleh sebuah lembaga yang mewakili seluruh universitas di Australia, bernama IDP, bertempat di Hotel Hyatt di Bandung. Berangkatlah aku berempat dengan mengendarai motor, tapi saat kami menjejakkan kaki melangkah ke luar, tiba-tiba, BRRRUUUSSSHHH!!!( maksudnya suara hujan deras,hhe) Yah, kami terjebak hujan. Dengan sabar kami menunggu, tapi waktu terus berjalan, kami gak mungkin menunggu sampai hujan reda, dan akhirnya kami nekat dan menerobos hujan yang bisa dikatakan cukup deras itu, berpikir bahwa kami gak boleh sampai ketinggalan seminar yang bagi kami sangat penting itu. Sesampainya di tempat, kami memasuki ruangan dengan cukup basah, tapi ya syukur orang-orang mengerti bahwa di luar sedang hujan. Ternyata bentuk seminarnya tidak seperti seminar pada umumnya, meja-meja mengelilingi sisi ruangan dengan setiap satu meja diisi oleh satu perwakilan universitas dan 2-3 orang yang bertugas sebagai "teller", berarti gak ada terlambat, karena sistemnya adalah kita mendatangi langsung meja yang mewakili unversitas yang kita inginkan. kami memutuskan untuk mendatangi stand IDP dan menanyakan hal-hal umum, yaitu tentang pelayanan yang diberikan, bagaimana cara untuk bersekolah di Australia, universitas mana saja yang berkompeten dalam bidang kami, dalam hal ini sastra kebahasaan, dan bahkan tentang biaya hidup di Australia. setelah mengetahui universitas mana saja yang kami minati, kami pun mendatanginya, mulai dari Adelaide University dan Melbourne University, menanyakan tentang jurusan-jurusan yang disediakan dan syarat-syarat agar kami lolos masuk universitas tersebut yang dapat dikatakan sangat menantang kami, uuufff!!! Kami pun mendapatkan simulasi tentang sebuah tes yang memang harus kami ikuti bila kami ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. Cukup puas kami mendapatkan informasi tentang semua itu, yang membuat kami terpacu untuk dapat memenuhi seluruh syarat yang diminta, walau terbilang cukup berat, tapi kami janji untuk berusaha dan saling membantu.
Seminar kedua diadakan pada keesokan harinya, tanggal 24 Oktober 2009 di Hotel Jayakarta, Bandung. Kali ini penyelanggara bernama SMART ELT yang menyongsong tema "Study Overseas and Scholarship". Pada seminar kali ini tidak hanya menginformasikan tentang satu negara, tapi lima negara langsung, yaitu Inggris Raya, Amerika Serikat, Belanda, Australia, dan Malaysia. Inggris diwakilkan oleh lembaga British Council. Inilah negara tujuan utama bagiku pribadi, yang aku dambakan selama ini dan terus berharap dan berusaha untuk bisa pergi ke sana, berharap dapat melanjutkan kuliah di salah satu universitas ternama di sana. AS diwakili Study US, Belanda diwakili oleh Nufic Neso, dan Australia oleh IDP. Dalam seminar ini kami dapat membandingkan secara lebih jelas antar masing-masing negara, mulai dari universitasnya, syarat-syarat masuknya, biaya hidupnya, dan bagaimana dengan beasiswa yang disediakan oleh masing-masing negara. memang setelah dilihat-lihat, negara Australia dan Inggris menempati urutan teratas tentang besarnya biaya hidup walaupun itu sebanding dengan kualitas yang mereka punya. Karena hal itulah aku tercambuk untuk lebih berusaha untuk mendapatkan beasiswa yang terbilang sulit dalam segi syarat dan pesaingnya, tapi itu harus kutepis! Agar dapt beasiswa aku harus memiliki IP minimal 3.5(wow!!!), TOEFL diatas 550 atau setara IELTS diatas 6, sangat-sangat berat, tapi inilah jalannya. Kami meneguhkan hati kami semua dan berjanji akan saling mendukung satu sama lain agar di saat kami masuk bersama, kami pun LULUS BERSAMA!!!
Harapanku dan hal yang sedang kuusahakan:
1. Lulus UPI dengan IP terbaik dan menjadi Mahasiswi terbaik.
2. Menyelesaikan S1 dalam waktu 3 tahun.
3. Melanjutkan S2 ke luar negeri secepatnya, terutama Inggris!
4. Lulus S2 dan kembali ke Indonesia.
5. Mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan.
6. Membahagiakan keluarga terutama orang tua.
Aku sedang mengusahakan hal-hal tersebut disamping banyak hal lainnya yang tak dapat disebutkan yang juga kuharapkan. Dengan ucapan BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM, ku mulai dari sekarang!!! SEMANGAT TEMAN!!!
Kamis, 29 Oktober 2009
Kamis, 15 Oktober 2009
Pengamen Jalanan
Mungkin tulisan-tulisan mengenai pengamen jalanan sudah banyak yang menggunakannya, tapi entah kenapa setelah apa yang saya lihat kemarin lalu, membuat saya ingin sekedar berbagi cerita dengan kalian semua.
Saat saya dan teman-teman saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, yang maaf sekali tidak bisa saya sebutkan, dengan tujuan untuk mencari tahu bagaimana caranya agar kami ingin mengikuti beasiswa dari manapun, walaupun pada akhirnya kami tidak mendapatkan informasi yang kami inginkan.
Rasa kekecewaan kami yang dapat dikatakan cukup besar akan ketidakberhasilan kami dalam mencari informasi mengenai beasiswa tersebut di tempat yamg tak dapat diucapkan tadi, membuat saya dan teman-teman saya bingung untuk menentukan tempat yang akan kami tuju selanjutnya, yang pada akhirnya kami putuskan untuk melaksanakan shalat dulu di masjid terdekat. Selesai shalat, kami pun memutuskan untuk makan di salah satu warung baso di dekat situ. Di sinilah kami melihat mereka.
Saat kami sedang menunggu pesanan datang, dua orang anak berumur sekitar 9-10 tahun datang menghampiri kami dengan malu-malu lalu duduk di meja sebelah kami yang kebetulan kosong, memang pada saat itu di tempat kami makan memang tidak ada siapa-siapa selain kami. mereka membawa masing-masing satu alat musik, anak yang berbadan lebih kecil membawa gendang berukuran kecil sedang anak yang berbadan agak besar membawa biola. Mereka seperti malu ingin memulai bermain, lalu kami katakan pada mereka,"ayo, mulai aja, de!" dan mereka pun mulai memainkan alat musik yang mereka bawa.
Mereka memainkannya dengan sangat baik, musik dan suara mereka benar-benar pas, apalagi dimainkan dengan biola. Saya hanya bisa bermimpi untuk memainkan biola, sementara anak itu bisa dengan baik memainkannya, Subhanallah!! Setelah mereka berhenti membawakan lagu pertama mereka, kami pun meminta mereka intuk membawakan satu biah lagu lagi, dan merekapun melakukannya. Setelah itu kami memberikan mereka sejumlah uang, merekapun pergi.
Kejadian ini membuat saya berpikir, kenapa tidak ada orang atau lembaga yang merangkul mereka, walaupun mereka hanya pengamen jalanan, tapi mereka mempunyai keahlian yang belum tentu dimiliki oleh anak kebanyakan. Saya membayangkan apabila ada semacam lemga sejenis panti asuhan yang dapat mengurus para pengamen jalanan dan dapat melatih mereka dengan keahlian yang sudah mereka miliki, setidaknya agar mereka tidak terlantar. Seandainya suatu saat itu kan terwujud...
Rasa kekecewaan kami yang dapat dikatakan cukup besar akan ketidakberhasilan kami dalam mencari informasi mengenai beasiswa tersebut di tempat yamg tak dapat diucapkan tadi, membuat saya dan teman-teman saya bingung untuk menentukan tempat yang akan kami tuju selanjutnya, yang pada akhirnya kami putuskan untuk melaksanakan shalat dulu di masjid terdekat. Selesai shalat, kami pun memutuskan untuk makan di salah satu warung baso di dekat situ. Di sinilah kami melihat mereka.
Saat kami sedang menunggu pesanan datang, dua orang anak berumur sekitar 9-10 tahun datang menghampiri kami dengan malu-malu lalu duduk di meja sebelah kami yang kebetulan kosong, memang pada saat itu di tempat kami makan memang tidak ada siapa-siapa selain kami. mereka membawa masing-masing satu alat musik, anak yang berbadan lebih kecil membawa gendang berukuran kecil sedang anak yang berbadan agak besar membawa biola. Mereka seperti malu ingin memulai bermain, lalu kami katakan pada mereka,"ayo, mulai aja, de!" dan mereka pun mulai memainkan alat musik yang mereka bawa.
Mereka memainkannya dengan sangat baik, musik dan suara mereka benar-benar pas, apalagi dimainkan dengan biola. Saya hanya bisa bermimpi untuk memainkan biola, sementara anak itu bisa dengan baik memainkannya, Subhanallah!! Setelah mereka berhenti membawakan lagu pertama mereka, kami pun meminta mereka intuk membawakan satu biah lagu lagi, dan merekapun melakukannya. Setelah itu kami memberikan mereka sejumlah uang, merekapun pergi.
Kejadian ini membuat saya berpikir, kenapa tidak ada orang atau lembaga yang merangkul mereka, walaupun mereka hanya pengamen jalanan, tapi mereka mempunyai keahlian yang belum tentu dimiliki oleh anak kebanyakan. Saya membayangkan apabila ada semacam lemga sejenis panti asuhan yang dapat mengurus para pengamen jalanan dan dapat melatih mereka dengan keahlian yang sudah mereka miliki, setidaknya agar mereka tidak terlantar. Seandainya suatu saat itu kan terwujud...
Penyanyi Jalanan
seiring dengan terbitnya sang mentari
terukirlah senyuman mereka di pagi hari
melangkahkan kaki ke pentas kenyataan
kehidupan mereka di jalanan
iringan musik sederhana terlantunkan
lirik lagu disenandungkan
menghapiri keasingan di luar sana
semakin tinggi matahari
semakin panjang langkah mereka
badan tlah bermandikan keringat
nafas tlah bercampur polusi
pikir inginkan keteduhan
raga paksakan tuk berjalan
merelakan gelengan penolakan
melewatkan lambaian tangan
jika bukan karna sesuap nasi
rasa ingin berhenti trus menghantui
inilah kehidupan mereka
potret para penyanyi jalanan
seiring dengan terbitnya sang mentari
terukirlah senyuman mereka di pagi hari
melangkahkan kaki ke pentas kenyataan
kehidupan mereka di jalanan
iringan musik sederhana terlantunkan
lirik lagu disenandungkan
menghapiri keasingan di luar sana
semakin tinggi matahari
semakin panjang langkah mereka
badan tlah bermandikan keringat
nafas tlah bercampur polusi
pikir inginkan keteduhan
raga paksakan tuk berjalan
merelakan gelengan penolakan
melewatkan lambaian tangan
jika bukan karna sesuap nasi
rasa ingin berhenti trus menghantui
inilah kehidupan mereka
potret para penyanyi jalanan
Langganan:
Komentar (Atom)